stia aan yogyakarta

Kuliah Umum Dies Natalis STIA AAN, Prof. Mukhtasar Tekankan Etika Teknologi Berbasis Pancasila

Yogyakarta – STIA AAN Yogyakarta kembali menggelar Kuliah Umum dalam rangka Dies Natalis ke-47 pada Rabu, 13 Mei 2026. Mengangkat tema “Integrasi Nilai dan Tradisi dalam Transformasi Administrasi Digital: Perspektif Etika Teknologi Berbasis Pancasila”, kegiatan ini menghadirkan Prof. Dr. M. Mukhtasar Syamsuddin, M.Hum., Ph.D., Guru Besar Filsafat Universitas Gadjah Mada (UGM), sebagai pembicara utama.

Teknologi Harus Berpihak pada Manusia

stia aan yogyakarta

Dalam paparannya, Prof. Mukhtasar menekankan bahwa perkembangan teknologi digital harus tetap diimbangi dengan nilai kemanusiaan, etika, dan filosofi bangsa. Menurutnya, setiap negara memiliki cara berpikir dan sistem nilai yang membentuk karakter masyarakatnya masing-masing.

Ia mencontohkan Korea dengan budaya disiplin dan etos kerja yang kuat, Jepang dengan penghayatan nilai kejujuran, hingga China yang menjadikan nilai sebagai bagian penting dalam memori kolektif masyarakat. Indonesia pun, menurutnya, memiliki fondasi nilai yang sangat kuat melalui Pancasila.

“Transformasi digital memang tidak bisa dihindari, tetapi manusia tidak boleh kehilangan kendali atas teknologi. Teknologi seharusnya melayani manusia, bukan justru menguasai manusia,” jelasnya di hadapan mahasiswa dan dosen STIA AAN Yogyakarta.

Tantangan Dehumanisasi di Era Digital

Prof. Mukhtasar juga menyoroti fenomena dehumanisasi di era digital. Ia memberikan contoh sederhana bagaimana aktivitas sehari-hari kini semakin bergantung pada perangkat digital, termasuk dalam kehidupan sosial dan spiritual masyarakat.

Dalam sesi materi, beliau menjelaskan pentingnya memahami hakikat administrasi sebagai ilmu. Menurutnya, penambahan kata “ilmu” dalam nama STIA memiliki makna filosofis yang mendalam, karena pendidikan tinggi tidak hanya menghasilkan pengetahuan biasa (common sense), tetapi pengetahuan ilmiah yang memiliki objek, metode, sistematika, dan dapat dipertanggungjawabkan secara universal.

Ia juga mengingatkan bahwa percepatan digitalisasi administrasi publik membawa tantangan etis baru, seperti penyalahgunaan data pribadi, kebocoran informasi, hingga kesalahan administratif akibat ketergantungan pada sistem teknologi.

“Kesalahan administratif sering kali bukan persoalan filosofis, tetapi persoalan teknis dan tata kelola. Karena itu manusia tetap harus menjadi subjek utama dalam penggunaan teknologi,” ungkapnya.

Selain itu, Prof. Mukhtasar menegaskan bahwa masyarakat tidak boleh menerima seluruh informasi digital secara mentah tanpa proses berpikir kritis. Ia mengutip pemikiran filsuf Jürgen Habermas tentang rasionalitas, bahwa manusia harus tetap memiliki kesadaran kritis dalam memanfaatkan teknologi informasi.

Pada akhir kuliah umum, beliau menyampaikan bahwa Pancasila harus menjadi fondasi etika dalam transformasi administrasi digital di Indonesia. Nilai ketuhanan dan kemanusiaan dinilai penting agar perkembangan teknologi tidak menghilangkan identitas dan moral bangsa.

“Setinggi apa pun teknologi berkembang, Pancasila harus menjadi rem. Teknologi tidak bisa menentukan nilai kehidupan manusia, manusialah yang menentukan arah penggunaan teknologi,” tutupnya.

Kegiatan kuliah umum ini menjadi bagian dari komitmen STIA AAN Yogyakarta dalam menghadirkan ruang akademik yang adaptif terhadap perkembangan zaman, sekaligus tetap menjunjung tinggi nilai, tradisi, dan etika dalam dunia administrasi publik digital.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.